Kamis, 20 Agustus 2009

SIAPAKAH ORANG SUNDA ?

Mata pelajaran sejarah yang diberikan kepada generasi muda sekarang ini, merupakan mata pelajaran sejarah yang sangat jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Banyak contoh yang dapat kita ambil sebagai hikmah dan sebagai pembelajaran untuk mengembalikan kembali nilai benarnya. Begitu pula dalam perjalanan sejarah Sunda khususnya, kita hanya mengenalnya sejak abad ke IV setelah kedatangan bangsa Hindu. Sedangkan jaman sebelum prasejarah (nirleka) sangat kosong dan banyak direkayasa demi kepentingan politis belaka dan mengecilkan arti Sunda yang sebenarnya. Salah satu contoh bahwa orang Sunda telah mampu menguasai Kambodya selama hampir satu abad (97 tahun). Kita selalu menutup mata terhadap apa yang ditulis oleh karuhun kita sendiri, hanya baru percaya oleh sesuatu yang datangnya dari para ahli luar negeri. Mari kita buktikan, dalam Encylopedia Americana V0. 5 halaman 250, dikatakan :” In the 6 Th century AD, Funan was overcome and anexed by Chenla, a vcasal state in what is now southern Laos. About 705 Chenla became devide and the southern part fell under Javanese suzerainity. A new king, Jayawarman II was placed on the throne and the capital was moved in Angkor site near the Tonle Sap lake. In 802 Jayawarman II declared Khmer independene from the Javanese”. (Kata Javanese hendaknya diartikan sebagai kekuasaan / kerajaan di Pulau Jawa, sehingga termasuk di dalamnya pengertian kerajaan di Jawa maupun Sunda. Hal itu dapat kita cocokkan dengan uraian dalam Carita Parahyangan tentang penguasaan Khmer (yang disebut Kemir) oleh Raja Seuweukrama dari Kerajaan Saunggalah yang terletak di Kuningan. Itu adalah pembuktian sejarah Ki Sunda. Namun di sini penulis tidak akan menguraikan sejarah itu, penulis akan mencoba mengungkap jaman nirleka Sunda.

Jauh sebelum jaman Megaliticum, di daerah Tatar Sunda sudah berpenduduk yang disebut manusia Sunda yang menganut agama Sunda dan menjalankan tatanan yang disusun menjadi tatanan Sunda. Kepercayaan mereka mengenai Tuhan yaitu wujud gaib yang tak dapat digambarkan dan tidak mampu manusia memberi namaNya, karena tidak dapat dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang ada di dunia ini; Ku harti moal katepi, ku akal moal kahontal, ngan karasa ku manusa ‘oleh pikiran tidak akan tercapai, hanya dengan rasa manusia”

Manusia Sunda pada waktu itu hidup dalam ruang yang disebut komunitas ‘ngabubuhan’ yang dikepalai oleh seorang ‘Daleum’. Tatanan kehidupan sosial mereka gotong royong ‘liliuran’ dan ‘paheuyek-heuyeuk leungeun’. Hal yang sangat dijauhi dalam kehidupan mereka adalah ‘mipit teu amit, ngala teu menta, menta teu bebeja, ngagedag teu bewara.Dan sangat menghormati tatacara: ngeduk cikur kudu mihatur, nyokel jahe kudu micarek; tigin kana jangji, bela kana lisan buyut saur larangan sabda, ulah kabita ku imah bodas, ulah kagendam ku pingping bodas, ulah heroy ku sangu bodas’. Betapa tinggi nilai falsafah yang mereka terapkan dalam tatanan kehidupan keseharian mereka. Namun kini apa yang terjadi ? Manusia Sunda lupa akan dirinya, sehingga tatanan yang telah menjadi norma tinggal hanya sebuah nilai yang diteliti di atas kertas.

Benarkah Orang Sunda Pendatang ?

Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? Ada sebuah dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama, di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam ‘Uga’nya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus). Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat ‘sesembahan’ orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi ‘sesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya. Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem ‘sesembahan’ yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.

Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau ‘maung’, tapi ‘sima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orang Indonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan ‘tata - subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongo” fungsinya sebagai ‘mnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?

Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).

Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf ‘hunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.

Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba ‘trappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?

Salah satu ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.

Pembuktian ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis -- yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol -- ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.!

Penulis tidak perlu memberikan satu kesimpulan, seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar