Kamis, 20 Agustus 2009

CARITA PANTUN

Carita (cerita) Pantun adalah cerita yang dituturkan dalam pertunjukan seni tutur yang disebut mantun. Penuturan carita pantun dilakukan dengan cara didendangkan oleh seorang juru pantun sambil diiringi alat musik kacapi (kecapi) yang dipetiknya sendiri. Petikan kacapi ini lebih berfungsi sebagai pengatur irama daripada sebagai pengiring melodi. Ada dua jenis kacapi yang biasa digunakan untuk mengiringi carita pantun. Jenis pertama adalah kacapi yang ukurannya lebih besar baik panjang maupun ruang resonansinya bila dibandingkan dengan kecapi pada umumnya. Bentuk kacapi ini mirip dengan perahu yang tanpa layar. Pada kedua ujung kacapi berbentuk gelung (sanggul). Nada yang dihasilkannya berupa nada-nada yang berat dan bergema. Kacapi jenis ini disebut kacapi pantun. Kacapi pantun digunakan oleh juru pantun yang berasal dari daerah Priangan dan Kuningan. Jenis kedua adalah kacapi yang mirip dengan kacapi kawih hanya ukurannya lebih kecil dan penampilannya lebih sederhana. Kacapi jenis ini digunakan oleh juru pantun yang berasal dari daerah Baduy. Kawat (dawai) yang terdapat pada kedua jenis kacapi ini pada awalnya berjumlah 9 buah, tetapi kemudian ada yang berkawat 18 buah sama seperti jumlah kawat kacapi pada umumnya. Selain kacapi alat musik lainnya yang umum digunakan untuk mengiringi carita pantun adalah kecrek. Di beberapa daerah ada juga yang menambahkan alat musik lainnya, seperti tarawangsa di daerah Sumedang, suling di daerah Karawang dan Cikampek. Tetapi di daerah Cirebon carita pantun hanya diiringi petikan kacapi saja. Juru pantun sebagai penutur carita pantun adalah seorang laki-laki tunanetra. Seorang juru pantun memang harus seorang laki-laki yang tunanetra karena ada kepercayaan bila yang menjadi juru pantun bukan orang tunanetra, maka mantunnya tidak akan kataekan (berhasil dengan sempurna). Untuk menjadi seorang juru pantun tidaklah mudah karena ada ritual-ritual yang harus dijalaninya seperti berpuasa selama berguru atau belajar mantun. Selain itu seorang juru pantunpun dituntut untuk mampu menghafal cerita pantun yang akan dituturkannnya diluar kepala berikut lagu-lagu yang akan didendangkannya. Ada beberapa lagu yang didendangkan juru pantun dalam pertunjukan carita pantun seperti; papantunan, pangapungan, dan mupu kembang. Lagu-lagu tersebut kemudian dijadikan sebagai sumber penciptaan tembang cianjuran.
Pertunjukkan carita pantun dilaksanakan sepanjang malam mulai bada isa dan berakhir menjelang subuh. Bahkan ada satu carita pantun yang berjudul Badak Pamalang yang ceritanya sangat panjang sehingga pertunjukkannya dilaksanakan selama dua malam berturut-turut. Dilihat dari lama pertunjukkannya yang memakan waktu satu malam bahkan ada yang sampai dua malam maka carita pantun merupakan cerita yang panjang. Carita pantun dipertunjukan atas permintaan seseorang yang punya keinginan untuk mengadakan salametan atau ngaruat (selamatan dan ruwatan) seperti syukuran menempati rumah baru, pernikahan, melahirkan, selesai panen, sembuh dari penyakit berat, dan sebagainya dengan tujuan untuk mendapat keselamatan. Tempat pertunjukan carita pantun di dalam rumah, biasanya di ruang tengah atau di tepas (serambi depan). Penontonnya pun terbatas, hanya kerabat yang punya hajat dan tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Sebelum carita pantun dipertunjukan ada syarat-syarat yang harus disediakan oleh orang yang akan melaksanakan mantun, seperti menyiapkan sasajen (sesajen) yang berisi antara lain; kemenyan, puncak manik, rurujakan, hahampangan, air dari berbagai jenis bunga. Isi sesajen pada setiap pertunjukan pantun tidak sama tergantung dari carita pantun yang akan dipertunjukannya. Sesajen ini dipersembahkan untuk para leluhur dengan tujuan agar dalam pertunjukan carita pantun yang akan dilaksanakan diberi keberkahan dan keselamatan baik bagi yang punya hajat, juru pantun, maupun bagi mereka yang hadir untuk mendengarkan carita pantun. Begitu pula dengan juru pantunnya bila akan membawakan carita pantun yang dianggap sakral maka ia harus melakukan puasa beberapa hari sebelum pertunjukan carita pantun dilaksanakan. Dan ada pula tokoh tokoh dalam carita pantun yang dipercaya pernah hidup seperti dalam carita pantun Lutung Kasarung. Ini menunjukkan bahwa meskipun carita pantun merupakan karya sastra lisan tetapi sangat erat kaitannya dengan adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Sunda pada waktu itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa carita pantun pada waktu itu cenderung dinikmati sebagai salah satu bentuk adat istiadat dalam selamatan atau ruatan yang penuh dengan mitos daripada dinikmati sebagai karya sastra lisan untuk hiburan.
Keberadaan carita pantun tersebar di seluruh pelosok wilayah provinsi Jawa Barat dan dikenal pula di daerah Brebes yang masuk dalam wilayah provinsi Jawa Tengah. Penyebaran carita pantun dilakukan dengan cara lisan dan dalam kurun waktu yang lama sehingga dalam judul yang sama mungkin saja terjadi berbagai versi dalam lakonnnya. Belum ada kepastian tentang awal adanya carita pantun. Ada yang memperkirakan bahwa carita pantun mulai dikenal pada akhir kerajaan Pajajaran, karena lakon dalam carita pantun adalah para raja keturunan Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran. Tetapi perkiraan ini tidak dapat diterima karena ada pula carita pantun yang menceritakan para raja dari kerajaan Galuh, sebuah kerajaan yang lebih tua dari kerajaan Pajajaran. Sedangkan pendukung tertulis tentang keberadaan carita pantun ini baru ditemukan dalam sebuah naskah sunda kuno yang berjudul Siksa kanda ng karesian (1440:1518M). Dalam naskah itu disebutkan tentang adanya prepantun (juru pantun) dengan 4 buah judul carita pantun, yaitu Langgalarang, Banyakcatra,Siliwangi, dan haturwangi. Tetapi sangat disayangkan bahwa keempat judul tersebut sudah tidak dikenal lagi oleh para juru pantun dewasaini.
Carita pantun merupakan karya satra lisan asli sunda lama yang sangat bernilai tinggi baik dari segi sastra maupun budaya. Dari segi sastra carita pantun termasuk kedalam karya sastra berbentuk puisi yang sangat kuat dalam perbandingan perbandingan yang sangat plastis dan tenaga pilihan kata-kata yang tepat baik dalam menggambarkan kecantikan seorang putri, hutan lebat, putri menenun, kerajaan kertaraharja, watak pelaku utama, perang, berpengantin, dan sebagainya. Umpamanya kecantikan jasmani dan rokhani tokoh Purbasari yang terdapat dalam carita pantun Lurung kasarung digambarkan sebagai berikut :
Semu ratu sorot menak,
Bulu bitis muril-muril,
Tetenger jadian kuring,
Bulu punduk miuh-miuh,
Tetenger jadian tahun,
Sangauang dina tarang,
Tetenger jadian kuras,
Puter kurung dina irung,
tetenger terah wong agung,
tapak jalak dina letah,
tetenger bisa marentah,
taktak taraju jawaeun,
geulis ti nitis ngajadi,
jalma lenjang ti pangpangna,
geulis datang kanu lahir,
Terus ka langit pingpitu,
Paut ka congkar buana,
Komara mancur ka langit
“air muka ratu wibawa bangsawan,
Bulu betis galing bergulung,
Tanda kan banyak berhamba,
Bulu kuduk hitam galing,
Alamat kan panjang usia,
Sangauang pada kening,
Tanda besar rejeki,
Puter kurung pada hidung,
Tanda keturunan rang agung,
Tanda silang pada lidah,
Tanda pandai memerintah,
Bahu bak timbangan jawa,
Cantik dari sejak jadi,
Tubuh semampai dari mula,
Cantik sampai pada lahirnya,
Tembus ke langit ketujuh,
Tembus ke dasar jagat,
Sinar kecantikannya,
Menusuk langit ”
Hal lain yang diperhatikan dalam carita pantun adalah irama. Jumlah suku kata pada tiap baris umumnya berjumlah delapan suku kata. Ketentutan ini bukanlah ketentuan yang mati karena ada beberapa yang lebih dari delapan suku kata dan ini dilakukan untuk kepentingan irama. Berikut ini salah satu contoh penggunaan irama dalam rajah carita pantun Lutung Kasarung yang sangat terpelihara dalam setiap barisnya.
Bul kukus mendung ka manggung,
ka manggung neda papayung,
Ka dewata neda suka,
ka pohaci neda suci,
kuring rek diajar ngidung,
nya ngidung carita pantun,
ngahudang carita wayang,
nyilokakeun nyukcruk laku,
nyukcruk laku nu baheula,
lulurung tujuh ngabandung,
kadalapan keur disorang.
Bisina nerus narutus,
Bisina narajang alas,
Paliasnerusnarutus,
Palias narajang alas,
Da puguh galur ing tutur,
Ngambat papatan carita.

Ti mendi pipasinieun,
Ti mana picaritaeun,
Ttep mah ti kahyangan,
Ditandeancupumanik,
Cupumanik astagina,
Diwadahan sarat tangan,
Dituruban ku mandepun,
Diteundeun di jalan gede,
dibuka ku nu ngaliwat,
ku nu weruh di semuna,
ku nu terang di jaksana,
ku nu rancage di hate,
dibuka pating haleuang
nu menta dilalakonkeun.

Cag :
Teundeun di handeuleum sieum,
Tunda di hanjuang siang,
Paranti nyokot ninggalkeun.

Mengawang dupa ke manggung,
Ke manggung minta pelindung,
Pada dewata minta suka,
Pada pohaci minta suci,
Aku kan belajar ngidung,
Menembang cerita pantun,
Mengugah cerita wayang,
Menamsilkan laku dahulu,
Mengusut perbuatan lama,
Tujuh lorong berjejer,
Kedelapan yang sedang ditempuh.

Kalau-kalau salah mengucapkan,
Kalau-kalau melanggar dasar,
Sebab jelas susunan laku,
Terbentang jalan cerita.

Dari mana asal perundingan?,
dari mana bakal cerita ?,
tetaplah dari kahyangan,
ditampung dengan cupumanik,
cupumanik astagina,
ditempatkan atas sarattangan,
ditutupi dengan mandepun,
disimpan di jalan raya,
dibuka oleh rang lalu,
oleh yang tahu wataknya,
oleh yang tahu timbangan,
oleh orang aktif kreatif,
waktu dibuka ramai bernyanyi,
yang minta dikisahkan.

Nah :
Simpan di handeuleum rimbun,
Simpan di hanjuang rindang,
Peranti menyimpan dan mengambilnya lagi.

Carita pantun terbagi atas dua bagian , yaitu: rajah dan isi cerita. Rajah pada intinya berisi permohonan izin kepada Tuhan, para leluhur, dan para mahluk gaib lainnya yang menghuni berbagai tempat dengan harapan agar mendapat keselamatan dan keberkahan bagi yang punya hajat, juru pantun, dan orang yang mendengarkan sehubungan dengan akan dilaksanakannya pertunjukkan pantun. Isi dan panjang pendeknya rajah pada setiap carita pantun tidak selalu sama tergantung dari juru pantunnya. meskipun carita pantun yang dilakonkan berbeda tetapi bila juru pantunnya sama mungkin saja rajah yang dibawakannya akan sama. Rajah bukan merupakan bagian dari isi carita pantun ,tetapi kehadirannya pada setiap pertunjukan selalu harus ada. Inilah yang menjadi kekhasaan dari carita pantun. Rajah yang disampaikan juru pantun di awal pertunjukan carita pantun diebut rajah pamuka sedangkan rajah yang disampaikan setelah lakon dalam cerita pantun tamat disebut rajah pamunah. Isi cerita berisi lakon dari cerita pantun itu sendiri yang penyampaiannya dapat berupa deskripsi,narasi, dialog, dan monolog.
Deskripsi yaitu bagian yang menggambarkan tingkah seorang tokoh, kejadian, dan rasa hati seperti sedih, gembira dsb. Bagian ini didendangkan oleh juru pantun dengan menggunakan berbagai gaya bahasa yang menggambarkan deskripsi tersebut. Berikut contoh deskripsi satria yang sedang berdandan dalam carita pantun Lutung kasarung :
Toroptopan tereptepan,
sacokot-cokotna meunang,
sabeulit mahi sagolek pangkek,
sacangreud pageuh,
nyigihkeun calana panji,
sabuk dantun tali anyar,
keris buat mantalan sari,
gogodongna si julang anom,
disoren tungtungna bae,
kekewer dicinde kembang,
panjangna sadeupa mider,
susumping kembang jayanti

Bagian narasi disampaikan oleh juru pantun ketika akan menyambungkan satu kejadian ke kejadian berikutnya. Pada bagian narasi tidak didendangkan meskipun tetap diiringi kacapi. Contoh narasi yang terdapat dalam carita pantun Ciung Wanara :

Kacarita dua patih sakembaran,
Patih purawesi Patih Puragading,
Sejana ka pasamoan,
Bawana hayam sahiji,
Patepung di alun-alun jeung Ciung Wanara,
Gancang bae ditanya ku Ciung Wanara.

Bagian dialog berisi percakapan antara para pelakunya.
Bagian monolog berisi percakapan pelaku seorang diri baik yang dilisankan maupun perkataan yang diucapkan didalam hatinya.
Carita pantun yang tersebar di wilayah Sunda yang berhasil diinventarisir oleh Iskandarwassid baik yang masih diketahui ceritanya secara utuh, hanya diketahui sinopsis saja, atau hanya diketahui judulnya saja berjumlah 75 buah, Berikut ini judul dari ketujuhpuluhlima judul tersebut: (1) Aria Munding jamparing,(2) Banyakcatra,(3) Badak Pamalang,(4) Badak Sangorah,(5) Badak Singa,(6) Bima manggala,(7) Bima wayang, (7) Budak manjor,(8) Budag Basu atau Sri Sadana atau Sulanjana,(9) Bujang Pangalasan,(10) Burung Baok,(11) Buyut Orenyeng,(12) Ciung wanara,(13) Dalima wayang,(14) Demung kalagan,(15) Deugdeug Pati Jaya Perang,(16) Prabu Sandap Pakuan,(17) Gajah Lumantang,(18) Gantangan Wangi,(19) Hatur Wangi,(20) Jaka Susuruh,(21) Jalu Mantang,(22) Jaya mangkurat,(23) Kembang Panyarikan atau Pangeran Ratu Kembang Panyarikan,(24) Kidang Panandri,(25) Kidang Pananjung,(26) Kuda Gandar,(27) Kuda Lalean,(28) Kuda Malela,(29) Kuda wangi,(30) Langga Larang,(31) Langga Sari,(31)Langon, Layung Kumendung, Liman Jaya Mantri, Lutung Kasarung, Lutung Leutik atau Ratu Bungsu Karma Jaya, Lamng Sari, Manggung Kusumah, Matang Jaya, Munding Jalingan, Munding Kawangi, Munding Kawati, Munding Laya di Kusumah, Munding Liman ,Munding Mintra, Munding Sari Jaya Mantri, Munding Wangi, Nyi Sumur Bandung, Paksi Keling atau Paksi Keuling Wentang Gading, Panambang Sari, Panggung Karaton, Perenggong Jaya, Raden Mangprang di Kusumah, Raden Tanjung, Raden Tegal, Rangga Sawung Galing, Rangga Gading, Rangga Katimpal, Rangga Malela, Rangga Sena, Ratu Ayu, Ratu Pakuan, Ringgit sari, Senjaya Guru, dan Siliwangi.
Sejalan dengan perkembangan zaman carita pantun kemudian bergeser dari uapcara salametan/ruatan menjadi pertunjukkan hiburan. Pergeseran ini diperkirakan terjadi pada tahun 60-an. Ada sebuah rombongan pantun bernama Pantun beton dengan juru pantunnya Wikatmana mempertunjukkan pantun tidak hanya diiringi kecapi tetapi menyertakan seperangkat gamelan seperti pertunjukkan wayang golek dan dalam penyajiannnya diselingi dengan kawih-kawih dari sinden. Rombongan pantun ini disiarkan Langsung oleh RRI Bandung selama 3 jam. Carita pantun tidak lagi menonjolkan unsur kesakralannya tetapi sudah lebih banyak kepada segi hiburannya. Cara berpantun ini disebut dengan pantun beton. Sedangkan carita pantun yang pertunjukannya masih menggunakan cara lama disebut dengan pantun buhun. Selain lamanya pertunjukan, penyajian, dan kesakralannya, perbedaan antara pantun beton dan pantun buhun dapat dilihat dari cara pengisahannya. Dalam pantun buhun cara pengisahannya lebih banyak naratif sehingga cerita terkesan monoton dengan irama yang tetap sedangkan pada pantun beton lebih banyak dialog sehingga cerita terkesan dinamis dan lebih menarik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar