Rabu, 31 Maret 2010

“Cai“

Nandang Rusnandar

Jawa Barat selalu dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim halodo .'kemarau' dan musim ngijih 'penghujan', apabila musim ngijih, air subur di mana-mana Suatu kenyataan bahwa di Jawa Barat tidak sedikit nama daerah yang berhubungan dengan air atau dalam bahasa sunda disebut “ci”, ranca, bojong, dan tanjung,.– Namun dewasa ini hutan yang lebat dan subur menjadi hutan gundul oleh banyaknya ilegalloging dari orang-orang serakah, maka banjir dan longsor pun tak terhindarkan yang berakibat sangat menyengsarakan rakyat kecil di desa-desa--.
Nama-nama tempat dapat diartikan bahwa daerahnya sangat subur dan manusianya pun tak lepas dari alam sekitar. Nama Ci.., ranca, bojong, dan tanjung merupakan gambaran manusia Sunda khususnya dan Jawa Barat umumnya. Nama tempat dapat menunjukkan kecenderungan bahwa berlimpahnya air sangat mempengaruhi sikap dan perilaku hidupnya, tak lepas dari alam sekitar.

Dalam ilmu bahasa ada yang disebut onomastika, yaitu ilmu yang menyelidiki asal-usul dan arti nama. Salah satu cabang onomastika adalah toponimi, yaitu ilmu yang menyelidiki nama-nama tempat. Di seluruh pelosok Jawa Barat Mulai dari Kabupaten Ciamis di paling timur Jawa Barat hingga ke Ujung Kulon di sebelah barat Jawa Barat, Pantai selatan hingga pantai utara Jawa Barat, hampir di setiap pelosok selalu ada nama-nama daerah yang sebagai ciri bumi berhubungan dengan wilayah yang berair atau yang berhubungan erat dengan air di sekelilingnya. Nama-nama daerah yang berhubungan dengan wilayah yang berair itu, seperti : Situ, ‘telaga’, Ranca, Empang ‘rawa’ , bojong ‘tanjung’ daerah atau tanah yang menjorok ke air. Kita lihat nama-nama daerah yang ada di Jawa Barat, Babakansitu, Situsaeur, Situ Gede, Rancameong, Rancabadak, Rancakalong, Rancakaso, Empangsari, Tanjunglaya, Tanjung, Tanjungsari, Bojongkokosan, Bojongmenje, Bojongnangka, Bojongsalak, dsb. Begitu pula dengan daerah yang berawal dengan Ci, seperti di daerah Panjalu, Cibubuhan, Cikole, Cipanjalu, Cibeureum, Cinagari, Ciramping, Cilangkung, Cigorowek, Cihujung, Ciater, Ci… dan Ci lainnya. Bahkan ada nama kampung yang bernama Kampung Bahara yang memiliki arti “air” pula.

Air atau “cai” dalam bahasa Sunda berarti kahirupan, hirup “kehidupan”. Cai dalam tataran fislosofis dapat bermakna sebagai sesuatu yang memberikan kekuatan dalam kehidupan ini. Cai disimboliasasikan oleh Mama Mei Kartawinata dalam bukunya Pepeling (Tanpa tahun), sebagai sesuatu daya bagi kehidupan manusia. Manusia, tercipta oleh empat unsur sajatining hurip, yaitu : Cai “air”, Seuneu “api”, Taneuh “tanah”, dan Angin. Jadi manusa teh untung/ dikersakeun ku Hyang Widi/ diwarugaan ku opat dulur/ sakulit sadaging/ balung sungsum jeung nafasna/ KAMA NUSA estu asli //. “Manusia itu beruntung/ diberi kekuatan oleh Yang Widi/ dalam wujud empat unsur/ bercampur dalam kulit dan daging/ tulang dan sungsum begitu juga dengan nafasnya/ KAMA NUSA itu asli //

Hal itu tercermin dalam pupuh kinanti seperti di bawah ini :

Eta mah Cai ti gunung, asal ti sa’ab jaladri, peuting sumawonan beurang, estu henteu pisan cicing, gawena neangan jalan, Perjalanan geusan balik// Ngocor nyukcruk-nyukcruk gunung, nyusukan malipir pasir/ sakur lebak kaeusian/ balong sumur kitu deui/ tegal kebon pasawahan/ mawatna patani mukti// Nagara ge jadi subur/ hurip abdi waras nagri/ pangeusi alam sarehat/ sato hewan kitu deui/ kokotor ge diberesihan/ lantaran jasa ki Cai// Kitu kersaning Hyang Agung/ jembarna nu Maha Suci/ Cai maju ka lautan/ sajajalan jeung babagi/ tapi bet taya beakna/ matak heran mun dipikir // Kapan nu jolna ti gunung/ Cai netesna saeutik/ lumaku neangan jalan/ di jalan bari babagi/ taya nu teu kabagian/ jeung sesana teu saeutik// Ari geus deukeut ka laut/ matak gila nu ningali/ risi sieun ku gedena/ aworna laut jeung Cai/ nya dingaranan sagara/ Cai geus pulih ka jati// Tapi dasar Cai hirup/ sanajan geus di jaladri/ taya eureunna ngiriman/ saabna nyaian deui/ samalah reujeung nguyahan/ ka sakabeh abdi Gusti// Sangkan maranut ka rasul/ baroga rasa sajati/ ngersakeun ka sasama/ daek silih beuli ati/ sangkan pada salametna/ ulah pisan hiri dengki// Kapan manusa teh luhung/ piraku eleh ku Cai/ sanajan pinter carita/ taya gunana saeutik/ lamun teu reujeung buktina/ matak bosen anu nyaksi// Abdi Gusti ngucap NUHUN/ ka Cai nu mawa hurip/ ka Uyah nu mawa rasa/ sanajan mawa birahi/ jeung mawa nafsu sawiah/ nikmat mun reujeung pamilih //

Artinya :

Air itu berasal dari gunung/ dari uap lautan asalnya/ malam maupun siang/ tidak pernah diam/ untuk mencari jalan/ Perjalanan jalan untuk pulang/ Mengalir menyusuri gunung, menjadi parit menyusuri bukit/ semua lembah terisi/ begitu pula empang dan sumur/ kebun dan pesawahan/ membuat petani menjadi makmur/ Negara pun subur/ rakyat sejahtra negara aman/ sehat seisi jagat/ begitupun hewan/ semua yang kotor dibersihkan/ itulah jasanya Air/ Begitulah kehendak Hyang Agung/ Akbarnya Yang Maha Suci/ Air mengalir ke lautan/ memberi sepanjang jalan/ tapi tak pernah habis/ membuat heran bila dipikir// Padahal datang dari gunung/ hanya air setetes/ bergerak mencari jalan/ sambil memberi di sepanjang jalan/ tiada yang tak terbagi/ dan sisanya tidak sedikit/ Ketika dekat ke laut/ membuat getir yang melihatnya/ takut karena luasnya/ berpadunya laut dan air/ itulah namanya lautan/ air kembali ke asal/ Tapi sifat air itu hidup/ meskipun sudah di lautan/ tiada henti memberi/ uapnya memberi air kembali/ malah sambil memberi “garam”/ kepada semua hamba Gusti/Agar tunduk kepada rasul/ memiliki rasa sejati/ berbuat baik kepada sesama/ saling menghargai/ agar semua selamat/ jangan berbuat dengki / Manusia itu berakal/ masa kalah sama air/ meskipun pandai bicara/ sedikit pun tak ada gunanya/ bila tidak ada bukti/ menimbulkan rasa bosan bagi yang melihatnya/ Ya Gusti, hamba berterimakasih/ kepada air yang memberikan kehidupan/ kepada garam yang memberi rasa/ walaupun membawa birahi/ dan nafsu sawiah/ terasa nikmat bila dengan hasil pilihan/

Untuk pemberian nama sebuah tempat, karuhun kita dahulu selalu dikaitkan dengan ciri bumi daerah setempat, di mana nama itu sangat bermakna bagi penduduknya sendiri, sehingga nama adalah ciri mandiri yang tak dapat dipisahkan dengan cara dan ciri kehidupannya sendiri. Namun kini pemberian sebuah tempat sangat tidak berarti dan tidak jelas makna yang dikandungnya, asal terdengar bagus di telinga, maka jadilah nama itu untuk suatu daerah. Padalah, bila kita telusuri nama sebuah daerah sangat memudahkan untuk ditelusuri latar belakang sejarah dan budayanya.

Sebuah penamaan tempat, dapat kita lihat dalam sebuah syair di bawah :

Tumurun ti Cibubuhan / Teluk bango desa deui / Cibeureum anu kasampeur /di Cikole eureun deui// Hujung Tiwu nu kapencil / Catena tutuan gunung / cat man cat ka Pasir Putat/ Cinagari eureun deui // Mipir minggir tebeh kidul situ lengkong /pasanggrahan desa tuan /mudun ka Wawarung pari /marariuk (Mariuk) pasawahan ///…….. dst.

Artinya :

Mulai turun dari Cibubuhan/ Sampai di Teluk Bango/ Cibeureum terlewati/ Berhenti di Cikole/ Hujungtiwu yang terpencil/ Catena dikaki gunung/ Agak ke atas ke Pasir Putat/ Berhenti lagi di Cinagari/ Menyusuri bnagian selatan Situ Lengkong/ Pesanggrahan desa tuan/ Turun ke Wawarungpari/ Mariuk tempat pesawahan// /…../ dst

Air dalam paribahasa Sunda

Pindah cai pindah tampian, “Bisa membawa diri”, siga cai jeung minyak, “Selalu bertengkar” , siga cai dina daun taleus, “Tidak berbekas”, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salogak“ Kebersamaan / rukun”

Air dan kepercayaan masyarakat terhadap makhluk halus sebagai penghuninya

Sekitar Rawa Lakbok Pulau Majeti, Ciamis, masyarakat mempercayai adanya suatu kehidupan alam gaib (Siluman yang disebut Onom). Makhluk gaib ini digambarkan memiliki kehikdupan yang sama dengan manusia, seperti kebutuhan untuyk makan, minum, berkeluarga dan kebutuhan akan hibuaran. Oleh karena itu banyak onom yang kadang-kadang memasuki keramaian masyarakat manusia, seperti belanja ke pasar, nonton, naik kendaraan dan lain sebagainya.

Ada sekelumit cerita bahwa seorang dalang pernah diundang ke alam gaib tersebut. Ketika pulang dalang tersebut diantar sampai ke suatu tempat tertentu dengan syarat janga melirik / menoleh ke belakang. Jika dilanggar maka akan terjadi sesuatu, misalnya keindahan alam yang terlihat sebelumnya akan berubah menjadi hutan belantara. Begitu juga dengan uang atau pemberian makanan akan berubah menjadi daunt kering dan tanah.

Orang-orang Ciamis, apabila mengadakan upacara adat arak-arakan sunatan selalu menyediakan seekor kuda tunggang tanpa penunggang, konon menurut keperecayaan mereka, kuda itu ditunggangi oleh onom. Atau masyarakat percaya bila suatu hari perabotannya (alat-alat dapur) tiba-tiba hilang, misalnya ketel, serok, cowet, ulekan ‘mutu’ hihid, itu dipinjam oleh masyarakat onom yang sedang mengadakan hajatan. Suatu hari perabotan tersebut akan kembali dengan sendirinya.

Air dan Upacara

Secara filosofis, hubungan antara air “Cai” dengan Upacara Nyangku yang dilakukan di Nusa dan Bumi Alit, dapat diartikan pensucian diri. Bumi alit merupakan perlambang badan manusia itu sendiri, sedangkan perkakas atau barang pusaka itu sebagai perlambang dari alat-alat panca indra yang ada pada tubuh manusia. Nah apabila disucikan kembali maka harus dilaksanakan di “NU-SA”, artinya “ (“Nu” dalam bahasa Sunda artinya : yang; dan “SA” artinya satu). Jadi Arti secara keseluruhan pelaksanaan Nyangku (membersihkan pusaka) itu adalah membersihkan diri dari semua kotoran yang selama ini melekat pada diri, sehingga manusia yang telah dibersihkan kotorannya dapat menjadi NUSArasa, NUSAjati, NUSAbangsa, NUSAagama, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar