Kamis, 10 Desember 2009

PERJALANAN SEJARAH KI SUNDA DALAM BAYANGAN MITOS PEMBENARAN

Oleh : Nandang Rusnandar
Apabila kita berbicara mengenai sejarah, maka kita berada di titik sentral perkembangan suatu masyarakat. Sebab hal itu dikatakan B.R. O’G Anderson dari Cornell University, bahwa Ilmu sejarah adalah ilmu yang memiliki kedudukan sentral dalam penelitian suatu masyarakat. Penulis pun yang bukan seorang sejarawan merasa terdorong dan tergugah dengan pernyataan ini, karena kemurnian sejarah itu sendiri. Sehingga ilmu-ilmu sosial lainnya seperti antropologi, sosiologi, ataupun ilmu politik, cenderung memberikan fotografis dari suatu saat tertentu atau suatu bagian dari masyarakat. Ini disebabkan karena sejarah menggambarkan suatu proses perkembangan dan juga menjelaskan bagaimana kita sampai tiba pada keadaan seperti saat ini.
Apabila kita melihat dengan jujur dan nurani terbuka, maka dalam melihat ilmu sejarah akan menemukan intisari ‘enas-enas’ dari sejarah itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa sejarah adalah suatu penelitian untuk melihat bagaimana masyarakat itu bergerak, berubah, berkembang, dan juga sekaligus mempersoalkan unsur-unsur dinamikanya. Namun apa yang terjadi ? Ilmu sejarah dan sejarawan selalu dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan sehingga ia -- sejarah dan sejarawan -- jauh untuk mengenal dirinya sendiri. Sebaliknya negarawan, politisi, dan juga cendekiawan selalu mengadakan appeal terhadap sejarah bangsanya -- dengan alat sejarawan -- agar dapat melegitimasi atau pembenaran kekuasaan. Pada akhirnya sejarah yang sesungguhnya benar, kini tenggelam dan terpendam oleh mitos-mitos sejarah yang dibuatnya.
Bagaimana perjalanan sejarah di Jawa Barat ? Kenyataan ini telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, mulai dari datangnya VOC (selama 3,5 abad), dilanjutkan oleh pengaruh Mataram, Jepang, Orla selama (23 tahun) dan Orba (selama 32 tahun). Dengan kenyataan seperti itu, mari kita kembalikan lagi sejarah Jawa Barat yang sebenarnya, agar anak cucu kita (generasi mendatang) tidak lagi kehilangan jejak ‘pareumeun obor’. Dan janganlah sekali-kali menginterpretasikan ‘fill in’ Sunda oleh ilmu yang bukan Sunda, karena dampak yang akan dirasakan bahwa nuansa Sunda semakin tenggelam dalam mitos-mitos pembenaran, yang ada hanya kemasannya yang jelas-jelas bukan jati diri Sunda. Pada akhirnya enas-enas kasundaannya tidak ada.
Penelitian Sunda selalu ditutupi oleh mitos-mitos pembenaran. Hal itu tidaklah perlu heran, dan itu akan terus berlangsung bila tidak sadar akan jati diri yang sebenarnya dan melepaskan mitos pembenarannya. Hal ini telah diucapkan karuhun Sunda dalam uga.
Di Jawa Barat, ada beberapa fenomena yang menarik untuk diungkapkan, seperti bahasa Sunda bahasa tertua di dunia, Aksara Sunda, dan Kalender Sunda. Bahasa Sunda merupakan bahasa tertua dari Proto Sundic yang jadi akar bagi bahasa-bahasa yang ada di Dwipantara dan Nusantara (Mulai dari Madagaskar hingga ke kepulauan Hawaii Amerika bagian Timur). Mengapa hal itu terjadi ? Melihat dari beberapa fenomena yang ada di dalam bahasa Sunda, sangat menarik untuk dikaji, sehingga kajembaran ‘keluasan’ dan kekayaan bahasa Sunda bukan hal yang dapat disepelekan bahkan perlu diperhitungkan. Dalam ilmu geologi ada yang disebut The Sunda Mountain System, yaitu susunan gunung atau pengungan yang berawal dari kaki Gunung Himalaya hingga pegunungan di Hawaii. Mengapa disebut The Sunda Mountain System ? Karena Sunda bukan saja sebuah etnis, melainkan sebuah tatanan yang sangat besar dan sangat kuat. Bukti lain dikatakan bahwa Sunda merupakan pusat dunia ‘The lose Continent’ (Benua yang hilang ‘Atlantik’ itu adalah berpusat di Jawa Barat. Atau adanya Dataran Sunda dan Dataran Sahul, sehingga memunculkan kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil. Namun dengan sistem politik yang kerdil, nama ini tenggelam hingga tidak ada dan tidak berarti. Orang tidak lagi mengetahui ikatan sejarah itu). Ditambah lagi dengan hasil penemuan seorang geolog Belanda Van Bemelen yang menyatakan bahwa 50.000 tahun yang lalu di daerah Pakar (Dago - Bandung Utara) telah ditemukan artefak cetakan mata anak panah / tombak dari campuran besi. Manusia purba Sunda yang ada di daerah Pakar pada waktu itu telah mampu mencampur besi sedemikian rupa. Betapa tinggi budaya Sunda. Namun apa yang terjadi ? Semuanya masih tertutup oleh mitos pembenaran elit dan cendekiawan yang terkooptasi.
Paparan elemen yang paling dasar dalam sebuah bahasa, adalah kata ‘kecap’. Dalam bahasa Sunda ada yang disebut Kecap-asal dan Asal-kecap. Kecap-asal yaitu kata yang pertama kali ada, sedangkan asal-kecap merupakan kecap-asal yang sudah diberi imbuhan “Rarangken”. Rarangken hareup ‘awalan’ untuk Kecap-asal disebut Kantil sedangkan untuk Asal-kecap adalah awalan. Rarangken tukang ‘akhiran’ untuk Kecap-asal disebut Kintil. Sedangkan untuk Asal-kecap disebut ahiran. Rarangken Hareup dalam bahasa Sunda mempunyai 25 buah, Rarangken tengah atau disebut selapan ‘sisipan’ ada 4 buah, dan rarangken tukang ada 6 buah sedangkan Rajekan ‘kata ulang’ mempunyai tiga jenis.
Rarangken dalam bahasa Sunda selengkapnya apabila kita biras ‘matriks’ akan menjadi delapan milyar kata kata. Artinya bahwa dengan adanya rarangkén terhadap kata, bisa membentuk berbagai macam kata yang sangat banyak. Apalagi bila dilihat dari segi arti kata yang tidak sama, sebab masing-masing kata mengandung arti yang mandiri.
Istilah dalam linguistik ada yang disebut pasangan minimal untuk mengetahui perbedaan arti kata apabila sebuah kata dicoba untuk dipasangkan dengan kata lain. Begitu pula dalam bahasa Sunda yang memiliki vokal tujuh buah ‘a, i, u, é, o, eu, dan e (pepet), akan menghasilkan 49 kata.
Kedua, Aksara Sunda dengan 33 jenisnya dapatkah itu sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa Aksara Sunda adalah aksara Asli pribumi ? Sangat ironis, pernyataan seorang yang dianggap pakar dalam Kasundaan yang menyatakan bahwa aksara Sunda itu adalah Ka ga nga.... dst dan secara ‘ilmiah’ di- fill in dengan falsafah yang bukan falsafah Sunda !
Sementara itu, Dr. Uli Kozok (ahli pernaskahan dari Universitas Auckland ‘Selandia Baru’ (14 Oktober 1999) menyatakan bahwa Cakupan wilayah sangat luas temuannya dengan pola aksara yang dapat digolongkan dalam enam kelompok, yaitu :
(1) Hanacaraka (Sunda, Jawa, Bali);
(2) Ka-Ga-Nga (Kerinci, Rejang, Lampung, Lembak, Pasemah, dan Serawai);
(3) Batak (Angkolo-Mandailing-Toba-Simalungun-Pakpak-Dairi, Karo)
(4) Makasar Kuno (sampai abad ke-19);
(5) Bugis; dan
(6) Filipina (Bisaya, Tagalog, Tagbanuwa, Mangyan).
Sementara, Kozok menyatakan bahwa keenam tulisan di atas bisa dibagi lagi dalam dua kelompok utama, yakni aksara Hanacaraka yang secara struktural lebih dekat ke aksara India dan kelompok aksara Nusantara di luar Jawa dan Bali. Di sini pun para ahli memvonis bahwa aksara Sunda merupakan aksara yang berasal dari India. Pernyataan ini membuktikan bahwa budaya tulis menulis orang Sunda telah ada dari dahulu. Pembuktiannya adalah ketika Karuhun menciptakan Kalangider yang terus berlangsung dari tahun ke tahun yang tidak mungkin mengandalkan daya ingat. Pasti mereka memerlukan catatan. Jelas mempergunakan aksaranya. Mana buktinya akasara Sunda sudah dipergunakan sejak jaman dahulu ? Penulis masih ingat ketika mengadakan penelitian ke pelosok Jawa Barat beberapa tahun yang lalu (1993) hampir seluruh masyarakat desa yang memiliki naskah kuno menghancurkannya dengan cara membakar, mengubur, dan membuangnya. Hal itu terjadi karena adanya agitasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Mereka takut dengan ancaman, yang memiliki naskah kuno akan dipetruskan. Ditambah lagi dengan rasa kecewa oleh para ‘ahli’ yang meminjam untuk tidak dikembalikan. Banyak naskah yang dipinjam tidak dikembalikan dan mereka masih menunggu hak dan miliknya kembali.
Terakhir, mudah-mudahan dalam masa reformasi ini, manusia Sunda tersadar dan tidak lagi terkooptasi oleh mitos-mitos pembenaran, sehingga kita sendiri pusing dan bingung dibuatnya. Perjalanan sejarah Ki Sunda diharapkan dapat lurus dan kembali kepada jati dirinya. Dan jangan sampai terjadi lagi Urang Sunda ngomong make basa Sunda, ngamasalahkeun masalah Sunda keur urang Sunda di Sunda, teu meunang ku urang Sunda nu ngaku Sunda. ‘orang Sunda berbicara mempergunakan bahasa Sunda, mempermasalahkan masalah Sunda, untuk orang Sunda di Sunda, tidak boleh oleh orang Sunda yang mengaku Sunda’. Bahkan banyak orang Sunda kini hanya terbengong-bengong oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh orang luar.
Berlatar dari satu pemikiran bahwa pikiran manusia bukan saja dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran, namun sekaligus juga dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan hal-hal yang tidak benar. Seorang manusia bisa berdalih untuk menutupi kesalahannya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Dalih yang berbahaya adalah rasionalisasi yang disusun secara sistematis dan meyakinkan. Dalih semacam ini bisa memukau apalagi didukung oleh sarana otoritas.

Semoga !
Cag !

1 komentar:

  1. Hatur nuhun..Kang..!

    Salam
    a_degoen@yahoo.com
    FKP-CITUREUP 2011

    BalasHapus