Rabu, 02 September 2009

AKSARA SUNDA

Oleh Nandang Rusnandar

  • Makalah dalam Symposium Tahun Pusaka di Cigugur Kuningan - Jawa Barat Tgl 20 s.d 24 Februari 2003
Ngapan-ngapan anu kauntun ku waktu, nyaritakeun dongéng-dongéng anu kungsi kajadian, tapi moal mantak pikapercayaeun !
Tapi engké jaga baris deui kajadian, tangtu bukti, tangtu kasorang ! Ngan dina buktina jaga, mudu nguntungkeun heula nu jadi musuh ! Sabab urang Sunda, ngagung-ngagung k a l a p a s u n d a, tapi dina sarundana lain kalapa mamanggaran, tapi sunda h u h u l u a n !

“Kujang Di Hanjuang Siang, Ronggéng Tujuh Kala Sirna”

Pun.
Berbicara masalah Aksara Sunda, kita tidak bisa lepas dari latar belakang sejarah perkembangan manusia Sunda. Apa, siapa, dan bagaimana perjalanan budaya Sunda hingga terlahir sebuah Aksara Sunda, itu pertanyaan yang perlu kita jawab bersama. Meskipun catatan sejarah yang resmi tidak memadai, baik dari naskah-naskah kuno maupun catatan dalam bahasa Belanda (yang ada di Negeri Belanda) itu sangat minim. Hal itu terjadi karena, Belanda datang ke Tatar Sunda, pada waktu itu Sunda berada dalam situasi terjajah. Tanpa mengetahui sejarahnya, suku bangsa tak dapat mengenal dan memiliki identitas. Di samping itu, kesadaran sejarah merupakan sumber inspirasi dan aspirasi. Keduanya sangat potensial untuk membangkitkan sense of pride ‘kebanggaan’ dan sense of obligation ‘tanggungjawab dan kewajiban’.
Ada sebuah aksioma yang menyatakan sejarah suatu bangsa diawali dengan tulisannya (baca : Aksara). Sebab dengan tulisan tersebut, dapat mengungkap berbagai peristiwa yang terjadi pada masa itu. Lebih luas lagi bahwa melalui aksara dapat diketahui kehidupan budaya bangsanya yang melingkupi bidang-bidang filsafat, agama / religi, kepemimpinan, dan nilai-nilai yang tercantum dalam ajaran-ajaran lainnya yang menyangkut aspek kehidupan. Kenyataan itu berarti aksara sebagai tanda atau lambang dari bahasa, merupakan sarana untuk komunikasi yang dapat berfungsi sebagai penyimpan pesan.
Dengan kepemilikan aksara dapat dijadikan sebagai tolok ukur tinggi rendahnya budaya atau peradaban suatu bangsa. Bersyukurlah orang Sunda telah mencapai ke arah hal tersebut.
Dengan adanya Aksara Sunda ini, tidak semata-mata berfungsi memberikan pengetahuan latar belakang sejarahnya, melainkan juga bertujuan menyadarkan generasi muda dalam membangkitkan rasa kesadaran sejarahnya.
Setelah melihat hasil penelitian KALENDER SUNDA / KALANGIDER yang dilakukan oleh Ali Sastramidjaja (1990), dapat membuktikan hipotesis nol bahwa sistem tulisan ‘aksara’ telah lama dikenal masyarakat Sunda jauh sebelum abad pertengahan ke-5. Hipotesis ini dapat ditelusuri dengan mencoba membandingkan hasil akhir Kalender Sunda dengan Kalender Masehi yang sekarang berlaku di seluruh dunia. Karena dengan kalender, menurut Ensiklopedia Wrinkler Prince ditegaskan bahwa keluhuran budaya suatu bangsa dapat diukur dari akuratnya penanggalan. Kalender Masehi mempunyai sistem kabisat, yaitu tiap empat tahun sekali diubah satu tanggal, sedangkan penanggalan Hijriah setiap bulan selalu diadakan penyesuaian dan koreksi.
Penelitian awalnya, secara matematis ilmu astronomi menyebutkan bahwa dalam satu tahun adalah 365,2422 hari pertahun rata-rata, dalam Kala Surya Sunda adalah 365,2421875 hari pertahun rata-rata, jadi ada kekurangan 0,0000125 hari pertahun rata-rata. Angka perbedaan itu apabila dikalikan 80.000 hasilya 1 (satu). Artinya setelah 80.000 tahun, bakal ada kekurangan satu hari, maka nanti setelah 80.000 tahun baru ditambah satu hari (disebut tahun panjang). Namun hasil akhir dari penelitian astronomi pada tanggal 01-01-2000 Masehi, dinyatakan bahwa umur hari rata-rata dalam satu tahun adalah 365,24218967 maka kekurangan dalam Kala Surya Sunda adalah 0,00000217 hari pertahun rata-rata. Maka apabila dikalikan dengan 460829,49308756 hasilnya adalah 1 (satu). Artinya setelah 460830 (empatratus enampuluh ribu delapanratus tigapuluh) tahun akan ada kekurangan satu hari. Nanti setelah 460830 tahun ditambah satu hari yaitu untuk tahun panjang.
Begitu pula dengan perkembangan bahasa, kita mengenal adanya Proto Melayu yang diakui paling tua di Asia, ternyata lebih muda daripada Proto Soendic (Sunda) ribuan tahun (Bern Nothover, 1973 Makalah yang disajikan di ITB).
Hipotesis nol untuk pembuktian bahwa bahasa Sunda lebih tua dibanding dengan bahasa-bahasa di Nusantara ini, salah satunya dapat kita lihat, pertama, dari sistem morfologis yang dipergunakannya, yaitu dengan adanya rarangken hareup (KANTIL: pen.) ‘awalan’, rarangken tengah ‘imbuhan’, rarangken tukang (KINTIL: pen.) ‘akhiran’ dan rajek ‘ kata ulang’ apabila kita BIRAS ‘matriks’ akan menghasilkan 15 matriks yang akan membentuk 78 gabungan. Dari hasil gabungan tersebut akan menghasilkan kata menjadi 1.505.975.326 ‘SATU MILYAR LIMA RATUS LIMA JUTA SEMBILAN RATUS TUJUH PULUH LIMA RIBU TIGA RATUS DUA PULUH ENAM’ kata. Kedua, dari sistem pasangan minimal dengan pola permainan vokal (a,i,u,é,o,eu, dan e) dalam sebuah kata, akan menghasilkan 49 kata. Di mana makna secara semantis ‘nilai rasa’ akan selalu menunjukkan makna nilai rasa yang sama. Ketiga dari pemberian nama kepada seluruh -baik itu kejadian, ataupun benda- telah memiliki nama-nama yang berbeda.

Perhatian kita tidak terbatas / terfokus pada objek pengamatan (aksara) tetapi juga tertuju pada persepsi kita terhadap opbjeknya.
Aksara sebagai lambang bahasa yang mampu bercerita banyak dan atau menceritakan kembali pengalaman masa lalu. Lewat proses pengenalan dan pemahaman terhadap masa lampau itu merupakan kesadaran yang akan timbul menjadi kesadaran diri atau kolektif suku bangsa.
Dengan aksara dapat membuka presfektif temporal. Hal itu berarti bahwa kekinian dapat ditempatkan atau dipautkan dalam suatu konteks historis. Dalam proses konstekstuasi itulah terjadi proses penyadaran diri disertai oleh penemuan diri secara pribadi. Tidak hanya pada tingkat individual tetapi juga pada tingkat kolektif. Kesadaran kolektif akan dirinya membentuk rasa kebersamaan yang dilambangkan dalam -- bentuk (keanekaragaman) aksara Sunda -- sebagai lambang identitas.
Bagi masyrakat Sunda khususnya, perlu identitas primordial yang dijadikan suatu ikatan kebersamaan. Dalam hal Aksara Sunda yang telah diciptakan Karuhun harus menjadi suatu pride dan obligation bagi generasi muda dalam melestarikan dan mengembangkannya.
Kita harus membuat suatu konsensus bersama yang sangat esensial dalam melestarikan dan mengembangkan aksara ini. Sebab Aksara merupakan suatu lambang bahasa sebagai tuangan pengalaman kolektif bangsa yang didalamnya tercakup cipta, rasa, dan karsa (ideasional, etis, dan estetikanya). Karena dengan aksaranya (untuk sementara , pen) dapat berfungsi sebagai salah satu faktor pembentukkan identitas kolektif bangsa.
Aksara Sunda harus menjadi sumber inspirasi dan aspirasi generasi muda dengan melihat berbagai keanekaragamannya yang tertera dalam berbagai benda temuan, prasasti, lontar, tembaga, bambu, tanah, dsb.
Secara harfiah, aksara atau huruf adalah gambar bunyi bahasa (KUBI, 1982) atau tanda yang dipakai untuk melambangkan bunyi (Kamus Linguistik, 1982). Jadi pada dasarnya aksara merupakan tanda atau gambar dari bunyi bahasa yang diterakan di atas bahan-bahan yang pada akhirnya disebut sebuah aksara atau tulisan, baik mengandung arti ataupun tidak.
Secara faktual bahwa masyarakat Sunda (Jawa Barat) memiliki banyak jenis aksara dibanding dengan daerah lainnya di Nusantara ini. Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Dayanata Antarnusa yang berkedudukan di Bandung, telah mencoba menginven-tarisir dan mentranskripsi lontar yang ada di Ciburuy - Garut, membuktikan bahwa teraan aksara menunjukkan jenis-jenis yang berbeda satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan bahan-bahan yang dipergunakan untuk menulisnya pun berbeda-beda. Di samping Lontar yang ada di Ciburuy - Garut, Yayasan ini pun telah mencoba menelusuri Jawa Barat dan menemukan berbagai tinggalan tulisan Karuhun. Hal itu terbukti dari teraan aksara yang terdapat dalam bahan-bahan seperti :
1. Wanda aksara Sunda dalam batu ditulis mempergunakan goresan.
2. Wanda aksara Sunda dalam lontar ditulis mempergunakan peso pangot.
3. Wanda aksara Sunda dalam lontar ditulis mempergunakan geutah ‘getah’.
4. Wanda aksara Sunda dalam awi ‘bambu’ atau kai ‘kayu’ ditulis mempergunakan pisau
5. Wanda aksara Sunda dalam awi ‘bambu’ atau kai ‘kayu’ ditulis dengan cara disungging.
6. Wanda aksara Sunda dalam besi / tembaga ditulis mempergunakan paku atau ujung pisau.
7. Wanda aksara Sunda dalam daluwang ditulis mempergunakan tinta atau sari buah.
8. Wanda aksara Sunda dalam kertas ditulis mempergunakan tinta atau sari buah.
9. Wanda aksara Sunda dalam kertas ditulis mempergunakan cetakan atau dicetak.
10. Wanda aksara Sunda dalam kertas ditulis mempergunakan komputer.
Khusus teraan yang terdapat dalam Lontar, Atja menyebutkan “…sangat sedikit dari daun lontar. Umumnya sudah lapuk, dan jarang yang dapat diketahui urutannya” (1969 : 5). Setelah diperhatikan dan disimak lebih mendalam, wanda aksara yang ada dalam serat lontar Ciburuy terbagi dalam dua bagian besar yaitu : wada aksara runcing dan tebal. Wanda aksara runcing diterakan lewat sebuah alat yang disebut peso pangot, sedangkan wanda aksara tebal diterakan dengan mempergunakan ‘batang pohon alang ajub yang bergetah’.
Mengenai wanda aksara Sunda, bila dibandingkan dengan huruf Latin, wanda itu bagaikan urutan sejumlah font, jadi ada beberapa wanda. Dalam huruf Latin itu ada namanya masing-masing, seperti Roman, Arial, Courier, Old English, dsb. Dalam aksara Sunda font itu diambil dari nomor yang dibuat Holle dan ditambah dengan nomor lontar di Museum dsb. Nomor yang dibuat KF. Holle untuk aksara Sunda (West Java) ialah nomor 77 hingga 109 (jadi ada 33 wanda aksara Sunda atau font aksara Sunda); ditambah dengan yang tak termasuk nomor Holle, dari Lontar di Museum Jakarta sebanyak 94 buku; di antaranya lontar 406 Carita Parahiyangan, lontar 410 Carita Ratu pakuan, lontar 424 Donga Panikah Kawin, lontar 630 Siksa Kanda Ng Karesian, lontar 632 Amanat Galunggung dan seterusnya. Belum lagi naskah-naskah yang tersebar di masyarakat atau di tempat lainnya. Font yang ada dalam koleksi Yayasan Dayanata Antarnusa selain 33 jenis dari KF. Holle, ditambah dengan 21 font dari lontar Ciburuy (yang kami beri nomor sendiri, ialah nomor : 1, 5, 6, 7, 9, 11, 14, 16, 17a, 17b, 17c, 18, 22a, 22b, 23a, 23b, 25, 27, 28a, 28b, 29, dan angka lontar nomor 2.)
Jadi sebenarnya aksara Sunda itu banyak sekali. Wanda aksara Ha-na-ca-ra-ka (Cacarakan), dalam perkembangan serta pendekatan kesamaan sehingga akhirnya menjadi wanda aksara yang kemudian dibakukan dan diresmikan oleh Sultan Agung II dari Mataram, pada tanggal 1 Muharam Tahun Alip 1555 pada hari Jumat manis/ legi Kulawu, wuku masa Prangbakat, masa wuku Kasanga. Tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1043 H atau 08 Juli 1633 M. Sejak itu aksara Cacarakan diresmikan dan dianggap sebagai aksara Jawa, begitu pula dengan penetapan kelender Jawa yang menjadi awal tahun Mataram ! Kenapa hal itu terjadi? Sebab aksara Sunda Cacarakan merupakan aksara pasaran (Lingua franca dalam bahasa) yang dipergunakan oleh para pedagang.
Maka melalui Aksara Sunda yang menyimpan berjuta makna dapat dijadikan perbendaharaan / inventarisir nilai-nilai., cipta, rasa, dan karsa manusia purba (atistis). Hal tersebut harus mampu memacu motivasi agar mengembangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, agar aktivitas dan pengabdiannya kepada masyarakat dapat sesuai dengan kandungan moral luhur tersebut.
Bertumpu pada fungsi pengajaran Aksara Sunda dalam meningkatkan proses penyadaran kembali, perlu adanya hal-hal yang diperhatikan :
1. latarbelakang sejarah aksara
2. pengetahuan jenis-jenis aksara
3. kecakapan dalam mengauasai aksara
4. alat bantu untuk memudahkan proses belajar (alat lainnya, seperti peso pangot, lontar, daluang, komputer , dan lain-lain).
5. Juga tak kurang pentingnya adalah kunjungan ke tempat-tempat / situs batu tulis / prasasti-prasasti, museum.
Kita perlu menciptakan suatu iklim kultural sejak tahap awal pendidikan yang akan mendorong generasi muda lebih mencintai budaya miliknya.
Kini, setelah sejarah terus berjalan hingga sampai ke abad milenium III ini, kesempatan untuk mengembangkan hal-hal yang berbentuk tradisi lebih terbuka, apalagi dengan dibantu alat yang cukup canggih seperti komputer sangat memudahkan kita untuk bergerak. Begitu pula dengan komputerisasi aksara Sunda (khususnya) dan aksara daerah lainnya yang ada di seluruh Nusantara ini dapat lebih mengembangkan ke arah yang lebih baik.
Mudah-mudahan melalui aksara Sunda ini dapat mewariskan nilai-nilai kepada generasi yang lebih muda (di depan kita), dan dengan jiwa yang sangat toleran, kita tidak dengan mudah memutus untaian sejarah dengan ‘keegoan’ kita sendiri, karena yang rugi adalah anak cucu kita.
Penulis ingin ingatkan kembali, apa yang tertera dalam Prasasti Kawali yang terakhir, (hasil pembacaan penulis sendiri) INI PERETIGAL NU ATISTI AYA MA NU NGEUSI DAYEUH IWEU ULAH BATÉNGA BISI KAKÉRÉH ‘Ini peninggalan orang berilmu, semoga ada masyarakat kota ini jangan banyak tingkah agar tidak celaka’
Cag !

DAFTAR PUSTAKA
•Atja, Drs. 1970. Ratu Pakuan Lembaga Kebudayaan dan Sejarah, Bandung
•-----------. 1988. Aksara Sunda nu Pernah Dipake jeung Nuliskeun Basa Sunda. Makalah pada Kongres Basa Sunda, Cipayung - Bogor.
•Ekadjati. Edi. S. 1980. Naskah Sunda : Eksistensi Isi dan Fungsi. Makalah Universitas Padjadjaran Bandung
•Sastramidjaja, Ali. 1991. Kala Ngider. Yayasan Dayanata Antarnusa. Bandung.
•Tim Penyusun. 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Balai Pustaka Jakarta.
•Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Gramedia. Jakarta.
•Kartakusumah, Richadiana. 1991. Anekaragam Bahasa Prasasti di Jawa Barat pada Abad ke-5 Masehi sampai Abad ke-16 Masehi. Tesis Pasca Sarjana yang tidak diterbitkan. Fakultas Pasca SarjanaUniversitas Indonesia.

Senin, 31 Agustus 2009

Kesenian Sunda yang Tercatat

Setelah dilakukan inventarisasi dan dokumentasi sebagian oleh Kang Enoch Atmadibrata dan BahAli Sastramidjaja, Kesenian-kesenian dapat digolongkan ke dalam beberapa rumpun, yaitu:
  • Angklung (30 jenis),
  • Beladiri (10 jenis),
  • Celempungan (6 jenis),
  • Debus (15 jenis),
  • Gamelan (16 jenis),
  • Helaran (24 jenis),
  • Ibing (17 jenis),
  • Kacapian (20 jenis)
  • Macakal (18 jenis),
  • Mawalan (7 jenis),
  • Ngotrek (10 jenis),
  • Pantun (6 jenis)
  • Sandiwara (27 jenis),
  • Terbangan (18 jenis),
  • Topeng (8 jenis),
  • Sekar (15 jenis),
  • Wayang Orang (5 jenis),
  • Wayang Golek (9 jenis),
  • Wayang Kulit (7 jenis).
Dari sekian banyak jenis kesenian itu, hanya beberapa jenis saja yang diketahui oleh masyarakat.
Midah-midahan dewasa ini kesenian ini lebih banyak lagi yang tergali. Semoga.

Benarkah Orang Sunda Pendatang ?

Oleh : Nandang Rusnandar


Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. Benarkah itu? Ada sebuah cerita (anggap saja ini sebuah dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).

Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus). Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj)

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampai di sebuah pantai ‘basisir’ daratan Arab. Dari sana mereka terus menyebar yang pada akhirnya sampai juga di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang).

Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat ‘sesembahan’ orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi ‘sesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya. Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem ‘sesembahan’ yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu :

· Batara Guru di Jampang

· Batara Iswara (Siwa)

· Batara Wisnu

· Batara Brahma

· Batara Kala

· Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara)

· Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy)

Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan, sehingga melahirkan tujuh putra utama, yaitu :

· Prabu Tanduran Gagang (bagi mereka yang merasa keturunannya, tidak menyebut tandur, tapi ‘melak pare’)

· Prabu Ranggapupuk

· Prabu Ranggasena

· Prabu Emudsari

· Prabu Tetegan Wangi (yang bertanggungjawab mengenai sejarah)

· Prabu Angga Waruling

· Prabu Siliwangi

Sebagai jembatan keledai untuk memudahkan mengingatnya bagi orang Sunda, yaitu : Tandurangagang - gagangna; ranggapupuk - cupat; Ranggasena - cangkangna; Emudsari - kulumudna; Tetegan Wangi - dagingna; Anggawaruling - sikina; Siliwangi - seungitna. Siliwangi mempunyai tugas mengurus negara ‘ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara’ di Pakuan Pajajaran. Prabu Siliwangi ini beristri Kentrimanik Mayang Sunda, serta mempunyai anak :

1. Aci Solenggang Pakuan

2. Munding Sanggawati

3. Aci Malati

Ketiga putra ini mempunyai tugas untuk mencari tanah Parahiangan (Iran-Venj). Rombongan pertama dapat singgah di Bali serta mendirikan kerajaan. Rombongan kedua singgah di Kutai (Kalimantan), di sini pun mendirikan kerajaan. Sedangkan rombongan ketiga singgah di Polynesia dan diteruskan hingga ke Beutimelik , bagi orang Mauri disebut Selandia Baru.

Waktu itu pada jaman Siliwangi peradaban yang dimiliki sudah cukup tinggi, hingga ada perubahan dari jaman megalitik ke jaman logam, dari sistem pemerintahan Daleum ke pemerintahan kerajaan. Pada waktu itu, penduduknya sudah mengenal sistem metalurgi yang cukup tinggi, hal itu terbukti dari sistem teknologi dalam pembuatan keris, sekin, badi, dan lain-lain. Tata cara pembuatannya memang tidak seperti sekarang, dalam bentuk keris, badi, atau sekin akan terlihat gurat-gurat dan garis tangan si pembuatnya. Hal itu berbeda dengan jaman Majapahit, di mana cara membuat kerisnya dengan cara melebur dan dibakar (panday).

Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Begitu pula dengan nama-nama yang dipergunakannya, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata (ngalagena). Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau ‘maung’, tapi ‘sima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orang Indonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan ‘tata - subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongo” fungsinya sebagai ‘mnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

MENGENAL BUDAYA SUNDA DENGAN HASIL TITINGGAL KARUHUN

Oleh : Nandang Rusnandar

SAWANGAN KANA AJEN INAJEN NU DIKANDUNG DINA KECAP SUNDA
[Numutkeun leksikografis, etimologis, semantis, heurmanetik]

Drs. R. Mamun Atmamihardja (Sajarah sunda I. 1956) hasil anjeunna nyukcruk tina rupi-rupi kamus, harti kecap Sunda teh nyaeta :
A. Dina Basa Sansakerta :
SUNDA, jangkar kecapna Sund, moncorong, caang. SUNDA, jenengan Dewa Wisnu. SUNDA, jenengan satria buta (daitya) dina carita Upa Sunda sareng Ni Sunda. SUNDA, satria wanara dina carita Ramayana SUNDA, tina kecap cuddha SUNDA, ngaran gunung di kalereun Bandung (Prof.Berg)

B. Dina Basa Kawi :
SUNDA, hartosna cai -SUNDA, hartosna tumpukan SUNDA, hartosna pangkat SUNDA, hartosna waspada

C. Dina Basa Jawa :
SUNDA, hartosna nyusun SUNDA, hartosna ngarangkep SUNDA, tina candra-sangkala hartosna dua (2) SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna naek SUNDA, tina kecap ‘unda’ hartosna ngapung

D. Dina Basa Sunda :
1. SUNDA, tina sa-unda tina sa-tunda, hartosna tempat pare, (leuit).
2. SUNDA, tina s o n d a, hartosna alus
3. SUNDA, tina s o n d a, hartosna punjul
4. SUNDA, tina s o n d a, hartosna senang
5. SUNDA, tina s o n d a, hartosna sugema
6. SUNDA, tina s o n d a, hartosna panuju
7. SUNDA, dina sundara, hartosna lalaki kasep, tegep.
8. SUNDA, dina sundari, hartosna awewe geulis
9. SUNDA, dina sundara, jenengan Dewa Kamajaya
10. SUNDA, hartosna endah.
Upami dietang kecap Sunda teh numutkeun papayan etimologi aya 25 hartos. Tiasa jadi baris nambihan deui saupami leukeun mapay kamus basa sanesna, upami bae dina kamus Basa-Kawi-Perancis, hartos kecap Sunda nya eta ‘Kacida pisan endahna tur hejo ngemploh’ (Viviane Sukanda Tessier, dina diskusi pengamat Kabudayaan, 1990).
1. SUNDA, jangkar kecapna sund (bandingkeun sareng sun- B.Inggris nu hartina panonpoe), caang, moncorong, cahayana maparin sumber kahirupan keur sakumna mahluk.
2. SUNDA, jenengan Dewa Wisnu. Dupi pancen Wisnu teh nya eta miara alam dunya. Yen tugas Sunda teh ‘miara Alam’. "Heh manusa, ulah nyieun karuksakan anjeun di bumi", kitu pidawuh-Na
3. SUNDA, satria buta (daitya). Conto dina pawayangan nu disebat detya, nya eta Gatotkaca (putra Bima sareng Arimbi). Gatotkaca teh mibanda pasipatan nu kalintang saena teguh tanggoh tur nyatria, gede tanaga tur luhur panemuna, leber wawanen dina mancegkeun bener jeung adil.
4. SUNDA, satria wanara. ‘wana’=leuweung, ‘ra’=jelema nu hade. Tegesna jelema nu hirup di pileuweungan, di pahumaan. Pasipatanana: tara kuuleun, resep digawe, tangginas. pro aktif, aktif-kreatif (rancage) tur dinamis (binekas, binangkit).
5. SUNDA, tina kecap ‘cuddha’, tegesna putih. Kecap ‘putih’ dina basa Sunda 'clik putih, clak herang' = beresih pisan, wening, setra. ‘Lemah putih’ = uteuk nu beresih. ‘Ati putih’, teu goreng sangka, henteu suudon.
6. SUNDA, ngaran gunung nu kacida luhurna diantara G. Burangrang sareng G.Tangkubanparahu, nalika jaman samemeh aya Talaga Bandung. Ma'na kecap ‘gunung’ dina rasa Sunda, nuduheun hal nu gede, sapertos bae dina rumpaka "Papatet" pangrajah dina bubuka ieu makalah. 'Gunung tanpa tutugan' sok aya nu ngahartoskeun lambangna Kaagungan Alloh nu taya wates-wangenna. ‘Gugunungan’, lambang jagat ageung sareng jagat alit nu pinuh ku rahmat Alloh SWT. Ku kituna tetela Sunda teh ngandung sipat nu luhung, luhur.
7. SUNDA, hartosna cai. Lambang subur ma'mur. Nyaho pamiangan sareng nyaho pangbalikan (siklus; laut - saab - mega - hujan - walungan - laut).
8. SUNDA, hartosna tumpukan. Numpuk tuduh nyusun ka luhur. Teges na ngandung ma'na loba, beunghar, sarwa teu kurang.
9. SUNDA, hartosna pangkat. ‘hasilna gawe, ku kesang, ku elmu panemu’. Anu engkena nimbulkeun pangajen ti batur. Pangkat teh jadi ciri ajen inajen (kualitas) manusa.
10. SUNDA, hartosna waspada. ati-ati, pinuh ku duduga prayoga, asak jeujeuhan, matang timbangan, kahareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah. 'Waspada permana tingal", nyaho kana nu baris kasorang. Ieu teh jadi sahsawios sarat nu jadi pamingpin, nya eta ‘weruh sadurung winarah, awas waspada permana tingal’.
11. SUNDA, hartosna nyusun, henteu balatak pasolengkrah, ngentep seureuh, puguh gekgekanana.
12. SUNDA, hartosna ngarangkep. Dina babasan 'Boga pikir rangkepan' hartosna henteu bolostrong, dipikir heula nu asak, wiwaha.
13. SUNDA, hartosna angka 2. Angka 2 (dua), ngandung siloka-sasmita nu teu kinten jerona. 'Lalawanan : panas-tiis, suka-bungah. Papasangan ; istri-pameget, siang-wengi, itu-ieu sste. Ngenaan aworna nu dua (2), Haji Hasan Mustafa nyaurkeun; sapanjang neangan itu, ieu deui-ieu deui, sapanjang neangan bungah, susah deui susah deui,...'
14. SUNDA, hartosna naek. Kecap ‘naek’ ngagambarkeun kaayaan nu leuwih luhur, leuwih maju, leuwih hade, leuwih positip. Kecap naek tuduh kana "pagawean",
15. SUNDA, hartosna ngapung. 'Ngunda langlayangan',
16. SUNDA, hartosna alus. Kecap alus tuduh kana kaayaan nu dipikaresep.
17. SUNDA, hartosna punjul. onjoy atanapi aya leuwihna ti nu biasa. Punjul tuduh kana kualitas, kana prestasi.
18. SUNDA, hartosna senang. kana kaayaan batin, katumarimaan,
19. SUNDA, hartosna sugema. hate nu atoh tur tumarima, kulantaran nu diangen-angen (kahayang) kalaksanakeun.
20. SUNDA, hartosna panuju. tuduh yen nu dipigawe ku urang luyu sareng nu dipikahayang ku nu sanes.
21. SUNDA, hartosna lalaki kasep.
22. SUNDA, hartosna awewe geulis.
23. SUNDA, hartosna endah. tuduh kana rasa kalemesan budi (estetika). Kecap endah, ngandung harti/ma'na payus, pantes, alus, merenah.
24. SUNDA, hartosna Kamajaya. Dina mitologi Sunda, Dewa Kamajaya teh nya eta Dewa Cinta, nu nebarkeun rasa deudeuh asih.
25. SUNDA, hartosna panundaan (tempat nunda). Tiasa disebat oge ‘leuit’.

Minggu, 30 Agustus 2009

BANDUNG PELOPOR PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Daerah bersejarah yang merupakan bagian wilayah sebuah kota, merupakan suatu kesatuan landcape yang harmonis dan membutuhkan peraturan dan undang-undang yang lebih khusus ketimbang peraturan untuk pemugaran sebuah istana, umpamanya. Persebaran lokasi dari benda bersejarah atau cagar alam, ruang lingkup, luas obyek, hubungan dan saling ketergantungan, serta terbaurnya dan penyesuaian terhadap kehidupan sekarang, adalah salah satu contoh dari situasi dan kondisi yang harus dipertimbangkan dalam membuat undang-undang dan peraturan tentang monumen atau tempat bersejarah.

Bandung Dalam Pencagaran

Membalik-balik lembaran Sejarah Kota Bandung, kita akan menjumpai fakta, bahwa Ibukota Parahiyangan ini, tergolong pelopor dalam masalah pencagaran (konservasi) alam dan budaya di Indonesia. Museum Alam Terbuka Sunda misalnya, jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan apa yang disebut Monumenten Ordonantie Staatsblad No.238 Tahun 1931, yang selama ini menjadi acuan landasan hukum guna melindungi monumen dan bangunan bersejarah di tanah air, ternyata di Bandung sejak tahun 1917, telah didirikan Bandoengsche Committee Tot Natuurbescherming (Komite Bagi Perlindungan Alam Bandung). Komite ini pada mulanya diketuai oleh Dr.W.Dochters van Leeuwen, Direktur Kebun Raya Bogor, didukung oleh anggota pengurus lainnya, antara lain -- K.A.R.Bosscha “Sang Raja Teh Priangan”, F.W.R. Diemont, P.Holten dan wartawan Bandung, W.H. Hoogland. Dalam rangka menyelamatkan hutan perawan di perbukitan Dago (Bandung Utara) yang mulai digunduli penduduk untuk dijadikan lahan pesawahan, pihak Komite telah mengeluarkan dana sebesar 3.000 gulden, guna membebaskan kawasan tersebut. Tindakan itu dilandasi oleh hasil penelitian Dr. Isaac Groneman (1864), dokter pribadi Frans Wilhelm Junghuhn, yang menyatakan bahwa kawasan hutan perbukitan Dago tersebut banyak memiliki flora dan fauna yang unik dan langka. Seperti, jenis anggrek Microstylis Bandongensis dan Nervillea Aragona serta satwa, antara lain -- kancil, meong congkok (harimau kecil) dan lutung (Dr. Isaac Groneman, Bladen uit het Dagboek van Een Indische Geneesher”, Batavia, 1874).

Dalam kegiatan Komite bagi Perlindungan Alam Bandung selanjutnya, ternyata pada hutan milik organisasi itu di perbukitan Dago, orang telah menemukan situs dan artefak peninggalan jaman prasejarah. Antara lain -- bengkel dan permukiman masyarakat purba, situs pemujaan megalitik, serta temuan berupa kapak, hulu tombak dan mata panah (paksi) yang semuanya terbuat dari batu obsidian (Haryoto Kunto, Tempo Doeloe Cepat Berlalu”, Bandung, 1996).

Selain perkakas batu obsidian, di daerah Pakar (Dago Atas) ditemukan pecahan keramik-tembikar, gerabah jaman purba, juga cetakan tanah liat (terracotta) untuk mengecor kapak dan ujung tombak dari perunggu (bronzen gietvormen). Temuan perkakas dan benda-benda purba tersebut, sempat menarik minat penelitian para ahli, seperti -- Antropolog Dr. G.H.R. Von Koengswald (1935), geolog Dr. Van Bemmelen (1949) dan Dr. W. Rothpletz (1984). Dampak dari penemuan arkeologis yang sangat fantastis di perbukitan Dago tersebut, maka “Komite Bagi Perlindungan Alam Bandung” telah menentukan lahan miliknya menjadi Soenda Openlucht Museum(Museum Alam Terbuka Sunda). Dan sebuah bangunan tempat pertemuan komite, yang kemudian dikenal sebagai Dago Theehuis didirikan orang di Ujung Jalan Dago. Atas usaha komite di bawah pimpinan Dr. W.Docters van Leewen itu, beberapa benda bersejarah seperti -- arca, lingga dan yoni yang ditemukan oleh para sarjana Barat, seperti Junghuhn, Van Hoevel, Hoepermans, Brumund, Van Kinsbergen dan Veth di kawasan Tatar Priangan, sebagian dikumpulkan di Pendopo Kawedanaan Cicalengka, di pekarangan rumah Residen Priangan (kini Gedong Pakuan) dan di rumah seorang dokter di Jl. Cihampelas Bandung. Semenjak jaman kemerdekaan, benda-benda bersejarah tersebut telah raib dari tempat penyimpanannya. Namun yang jelas, Bandoengsche Committee tot Natuurbescherming yang didirikan di Kota Bandung pada tahun 1917 itu, tercatat sebagai organisasi awal yang ikut melestarikan benda cagar budaya, bernilai sejarah, sebelum lahirnya Monumenten Ordonantie (MO) No. 238 Tahun 1931.

Pelestarian Bangunan dan Monumen Bersejarah di Bandung

Rumah sebagai tempat tinggal, merupakan bangunan yang diciptakan untuk kenyamanan manusia sebagai penghuninya. Namun, rumah tidak hanya sebagai bangunan saja yang berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan rumah adalah sebuah produk seni yang dapat dilihat dari detail bangunan dan seni rumah itu sendiri, seni di sini adalah arsitektur atau tata bangun sebuah bangunan ‘rumah’. Rumah-rumah yang berarsitektur kuno, yang tersebar di setiap kota yang ada di Jawa Barat, baik itu pedesaan, kota kecamatan, kota kabupaten, maupun di kota propinsi, dapat mencerminkan perjalanan budaya dan sejarah arsitekturnya dan dapat diklasifikasikan tahun periode. Di samping itu menjadi ciri khas di daerahnya yang memperkaya khasanah budayanya. Sebuah bentuk rumah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, di antaranya, sejarah (tahun periode rumah itu dibangun), bentuk rumah (gaya atau style), bahan-bahan yang dipergunakan, detail rumah, dan bentuk kampung.

Pada tahun 1904, Pieter Andriaan Jacobus Moojen seorang arsitek Belanda generasi pertama datang bermukim di Kota Bandung. arsitek P.A.J. Moojen yang meninggal di Kota Den Haag pada tanggal 1 April 1955 dalam usia 75 tahun itu, merupakan orang yang membawa pengaruh langgam arsitektur Art Nouveau ke Indonesia. Bersama arsitek Zweedijk asal Surabaya, Moojen diberi tugas oleh pemerintah kolonial untuk merancang dan membangun Paviliun Hindia Belanda (Nusantara) pada World Fair (Pameran Dunia) di Paris tahun 1931. Untuk melaksanakan proyek World Fair di Paris itu, arsitek Moojen membawa sejumlah tukang dan pengrajin yang disertai lebih kurang 50 orang pengusaha pertokoan dari Bandung. Hubungan yang erat dan intensif antara Paris dan Bandung selama anjungan Nusantara dibangun di World Fair tahun 1930-1931 itu, pada akhirnya menebar pengaruh warna nuansa Eropa ke Kota Bandung. Sehingga kota pegunungan di alam Priangan ini, kemudian terkenal dengan julukan Paris van Java”.

Ada beberapa bangunan monumental karya cipta arsitek Moojen, baik itu di Bandung maupun di Jakarta. karya arsitektur Moojen di Jakarta antara lain, bangunan Bouwploeg (kini Mesjid Cut Mutiah) dan gedung Imigrasi Jakarta Pusat di Jl. Tengku Umar.

Apa yang perlu dicatat tentang karya jasa arsitek P.A.J. Moojen adalah inisiatif beliau untuk mendirikan Gebouw Nederlandsch Indische Kunstkring pada tahun 1912, yakni sebuah lembaga masyarakat yang bergerak dalam upaya pelestarian bangunan-bangunan arsitektur lama bersejarah, beserta karya seni bermutu di Indonesia. Atas upaya dan desakan P.A.J. Moojen inilah, kemudian pihak Gubernur Jenderal atau pemerintah kolonial Belanda menurunkan Monumenten Ordanantie Staatsblad No. 238 Tahun 1931 (Harian, AID de Preanger bode”, Bandung, 20 April 1955).

Sungguh ironis sekali nasib arsitek senior P.A.J. Moojen, di satu sisi ia menjadi pelopor pelestari bangunan bersejarah di Indonesia, namun justru sebagian besar karya cipta arsitekturnya di Kota Bandung ini hilang musnah digusur orang.

Selama dua dasa warsa terakhir ini, pandangan dan pengertian masyarakat tentang warisan budaya lama telah banyak berubah. Dari konsep lama yang hanya memandang dan memusatkan perhatian kepada benda sejarah dan cagar alam ukuran besar dan tergolong skala dunia (The world heritage sites), serta memiliki nilai tinggi dipandang dari segi -- keindahan estetika, segi arsitektur, usia lama (kekunoan), langka dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Kemudian orang mulai menyadari, betapapun kecil dan sederhananya benda warisan sejarah, pada hakekatnya merupakan karya (produk) sejarah yang penting mewakili jamannya, terlepas apakah tempat kedudukan cagar budaya tersebut terletak di jalan desa atau kota yang terpencil. Pandangan yang telah berubah itu tersirat sebagai berikut :

Article of the International Charter for Concervation and Restoration of Monuments and Sites, June 1964 : “It declares that the nation of historic monument comprises an isolated arcitectural work as well as the urban or rural site bearing witness to a particular cicilization, a significant development or a historic event and that it embrances not only archicultural masterpieces but also lesser works that have acquires a cultural significance with the passage time”.

Akibat dari perkembangan konsep baru terhadap pelaksanaan pemugaran itu, maka banyak peraturan dan perundangan-undangan mengenai monumen yang harus direvisi serta disempurnakan lagi, termasuk di Bandung ini.

Manfaat yang dirasakan dalam pelestarian ini adalah :

· Objek pariwisata

Bangunan berarsitektur lama dan menjadi ciri untuk menentukan tahun periode perkembangan arsitektur di Jawa Barat, dapat dijadikan sebagai sumber objek wisata yang dapat menghasilkan devbisa bagi daerahnya.

· Objek penelitian dari berbagai disiplin ilmu

Bangunan-bangunan yang tersebar di beberapa lingkung / pelosok kota adalah sumber ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan objek penelitian bagi perkembangan dari berbagai disiplin ilmu, baik itu untuk ilmu sejarah; bagaimana dan sejak kapan arsitektur itu berkembang di daerah ini, atau dengan bangunana itu dapat berbicara tentang lingkup sejarah pada masa itu hingga sekarang. Karena bangunan merupakan tinggalan yang sangat berharga sebagai tinggalan sejarah yang ada.

· Sumber devisa yang dapat menambah pendapatan daerah

Dengan banyaknya tinggalan bangunan yang bersejarah di daerah tertentu, dapat menjadikan sebagai objek wisata yang menyedot para wisatawan yang pada akhirnya dapat menambah devisa. Untuk meningkatnya ketertarikan para wisatawan itu, penataan dan pemeliharaan kembali bangunan-bangunan bersejarah perlu dilestarikan dan dikembangkan, malah dengan adanya sedikit catatan mengenai sejarah bangunan itu akan sangat menarik perhatian orang.

· Pengayaan budaya daerah setempat

Bangunan-bangunan kuno yang ada berarsitektur indah dapat dijadikan asset bagi daerahnya dan manjadikan ciri mandiri kota itu sendiri, sehingga sebuah kota yang euyeub ‘penuh’ dengan bangunan kuno yang terpelihara dengan baik adalah cermin budaya masyarakatnya. Yang sekaligus pula menjadi ciri kebanggaan daerah setempat. Karena bangunan sejarah itu adalah sumber sejarah yang dapat dan mampu berbicara apa adanya sesuai dengan perjalanan waktu.

Pelestarian

· Pemberian subsidi dana dari pemerintah dalam pemeliharaan dalam keseharian

· Adanya undang-undang pelestarian yang tidak hanya formalitas saja, melainkan menjadi suatu penentu kebijakan yang benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik, tanpa kecuali.

· Begitu pula dengan adanya perhatian dari pemerintah dalam pengelolaan bangunan itu sendiri, jangan sampai sebuah bangunan terlantar karena dengan alasan dana atau alasan politis lainnya.

Aneh sekali, dahulu orang Belanda sangat memperhatiklan daerah KBU ‘Kawasan Bandung Utara’ ini sebagai daerah cagar alam dan cagar budaya Bandung, kini hilang tak berbekas. Dewasa ini KBU menjadi ajang perebutan investor, karena KBU merupakan daeran yang strategis untuk dibangun. Namun tidak melihat akibatnya yang panjang, Bandung akan hancur ekosistemnya bila KBU dirusak secara sporadis. Gubernur di sini sebagai pembuat keputusan harus mampu bertindak tegas bagi siapa saja yang melanggar daerah tersebut.

Sekarang, Bandung sudah tak ramah lagi pada tinggalan budayanya, di satu pihak, untuk melindunginya banyak lahir peraturan yang menjanjikan. Namun di pihak lain Dinas Tata Ruang seakan membutakan diri dalam pembangunan Bandung. Bila kita nyawang ka tukang, Bandung pelopor dalam pencagaran, namun kenyataannya kini, Bandung pelopor pula dalam perusakan cagar budaya. Mungkin ada benarnya bahwa lahirnya sebuah peraturan atau hukum itu biasanya untuk dilanggar.

Kota Bandung adalah kota perjuangan, kota pendidikan, dan kota budaya, dapat lebih banyak lagi berbicara dengan tinggalan-tinggalan bangunan kuno dan lingkungannya sebagai fakta dan sumber sejarah yang mampu terus berbicara. Dengan demikian, pelestarian bangunan-bangunan yang berarsitektur kuno dan lingkungannya dapat menjadi lambang atau ciri mandiri kota Bandung itu sendiri.

“BANDUNG“ NAMA POHON YANG TERLUPAKAN

Masih banyak orang yang bertanya berasal dari kata apakah Bandung itu ? Kata Bandung, diperkirakan sejak tahun 1488 sudah disebut-sebut sebagai bagian dari kerajaan Pajajaran. Dalam buku buah Karya Valentijn tahun 1726, pada petanya tercantum nama Bandong, yang terletak di sebelah selatan Gegerkalong Hilir, sebelah Sungai Citarum dan pusatnya terletak di bagian barat kali Cikapundung.

Seorang sastrawan sekaligus budayawan, dan politikus pada jaman itu, yaitu KH. Hasan Mustafa berupaya mengupas apa arti kata Bandung, baik menurut arti kata maupun situasi kondisi alam yang melingkupinya. Apa yang diungkapkannya dapat dijadikan dasar untuk menginterpretasikan kata tersebut. Bandung sama dengan kata Bandungan yang berarti parahu paranti ngarungkupkeun heurap dina situ atawa wiletan ‘Perahu yang dipergunakan untuk menebarkan jaring dalam sebuah situ atau wiletan’. Kata Bandung dapat diartikan sama dengan pujian, minangka tungtung kapujian, cara dina elmu répok Lumbung Bandung sabab sok kongas eusina loba ‘merupakan pujian, seperti dalam elmu répok Lumbung Bandung, sebab termashur banyak isinya’. Atau Sumur Bandung caina tara saat-saat ‘Sumur Bandung airnya tidak pernah surut’. Kalimat lain menyatakan Dayeuh Bandung, ceuk kolot Bandung, gawena keur ngabandungan ka peuntas nagara Batulayang (Banjaran) nu matak aya basa “peupeuntasan dayeuh Bandung” ‘Menurut orang tua dahulu Kota Bandung berfungsi untuk menyimak atau memperhatikan ke arah sebarang Negara Batulayang (Banjaran), karena itu ada kata “Seberang Dayeuh Bandung”. Bandung sarua jeung bendung, rasiahna ngabendung nu kudu kandel bendungan bisi kabuka wiwirangna ‘Bandung sama dengan bendung, rahasiahnya membendung suatu bendungan agar tidak terbuka kejelekannya’(KH. Hasan Mustafa, Bale Bandung, 10 Agustus 1924).

Sementara itu Suryadi menyitir asal nama Kota Bandung diambil dari perkataan bendung (ngabendung atawa nambak situ) duméh baheulana tanah padataran Bandung asalna situ hiang (talaga). Nurutkeun galur nu kapihatur, carita nu baheula nu boga alpukah nyipta ngabendung éta situ hiang téh Nyi Rarasati anu jaman ayeuna disarebut Nyi Dayang Sumbi. ‘Nama kota Bandung diambil dari kata bendung hal ini disebabkan dataran tanah Kota Bandung berasal dari sebuah danau atau telaga yang bernama Situ Hiang. Menurut cerita orang, yang menciptakan danau tersebut adalah Nyi Rarasati atau yang sekarang kita kenal dengan sebutan Nyi Dayang Sumbi’ (Suryadi, 1974).

Dalam Kamoes Soenda, karangan Satjadibrata halaman 28, dikatakan bahwa pengertian kata Bandoeng artinya banding; ngabandoeng artinya ngarèndèng ‘berdampingan’; bandoengan artinya parahoe doea dirèndèngkeun makè sasag ‘dua perahu yang berdampingan disatukan dengan mempergunakan bambu yang dianyam; ngabandoengan artinya ngadèngèkeun nu keur matja atawa nu keur ngomong ‘menyimak orang yang sedang membaca atau yang sedang berbicara’. Melihat pengertian bahwa arti bandung, dalam bahasa Sunda identik dengan kata ‘banding’ dalam bahasa Indonesia, yang artinya ‘berdampingan’. Ngabanding berarti ‘berdampingan’ atau ‘berdekatan’. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia (1996), bahwa kata bandung berarti ‘berpasangan’ yang berarti pula ‘berdampingan’. Pendapat lain mengatakan bahwa kata bandung mengandung arti ‘besar’ atau ‘luas’. Menurut salah seorang informan di Bandung, kata bandung itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk ‘genangan air yang luas dan tampak tenang namun terkesan menyeramkan’. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi bandung. Ada pula pendapat menyatakan bahwa kata bandung berasal dari kata bendung.

Pendapat-pendapat tentang asal kata dan arti kata bandung tersebut di atas, diduga berkaitkan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu, sehingga terbentuk sebuah danau besar. Danau ini kemudian dikenal dengan sebutan ‘Danau Bandung’ atau ‘Danau Bandung Purba’. Dalam cerita rakyat Sangkuriang, terbentuknya ‘Danau Bandung’ dan Gunung Tangkuban Parahu terjadi dalam waktu satu malam. Dalam cerita itu, Sangkuriang putera Dayang Sumbi, yang diusir oleh ibunya. Setelah dewasa, ia bertemu kembali dengan ibunya dan jatuh cinta. Namun ketika Dayang Sumbi mengetahi bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya sendiri, dengan berat menerima permintaan Sangkuriang dengan syarat Sangkuriang harus membuat danau dan perahu dalam waktu satu malam. Kiranya penyebutan ‘Danau Bandung’ pun terjadi setelah di daerah bekas danau itu berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (Sobana, 1999).

Namun ketika penulis membolak-balik buku tulisan Haryoto Kunto, dapat ditemukan bahwa kata Bandung, berasal dari kata Bandong, sesuai dengan penemuan sebuah negeri kecil oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva. Dan tercatat pula bahwa Dr. Andries de Wilde, seorang pemilik kebun kopi yang sangat luas di daerah ini, meminang seorang gadis dan kemudian menikahinya yang berasal dari Kampung Banong (di daerah Dago Atas). Kata Banong adalah sama dengan kata Bandong, karena terjadi nasalisasi, konsonan rangkap [bandong = b a nd o ŋ ] menjadi [ b a n o ŋ ], contoh lain dalam kata [ s ə nd a l ] menjadi [ s ə n a l ] ‘sandal’.

Beranalogi dari nama tempat atau nama beberapa sungai di Kota Bandung, nama-nama tersebut banyak mengambil dari nama-nama pohon yang tumbuh di alam sekitarnya; contoh Cibaduyut berasal dari nama pohon baduyut ‘Frichosanthes villosa BL’; Kampung Binong berasal dari nama pohon binong ‘Sterculia Javanica’; Dago yang kini semarak dan ramai, di samping nama itu berasal dari nama sebuah pohon Dago Kancil ‘Palem – Calamusconirostris’, juga berasal dari kata (b.Sunda) padago-dago ‘saling menunggu’ antara para pedagang gowengan (pedagang yang membawa barang dagangannya dengan cara dibawa di atas kepala atau disuhun) di sebuah perempatan di desa Coblong sekarang. Begitu pula dengan nama Sungai Cikapundung, berasal dari nama sebuah pohon kapundung ‘Baccaurea dulcis MUELL’ atau nama Sungai Citarum berasal dari kata tarum ‘Indigofera spec’ atau Tarum areuy ‘Marsedenia tinctoria R.BR’. Kata Bandung, penulis berpendapat berasal dari sebuah nama pohon Bandong ‘Garcinia spec’ (Heyne : 1950 Jilid III, pada halaman 2233, menyebutkan bahwa Bandong ‘Garcinia spec’ sejenis pohon yang tingginya 10 - 15 m dan besar batangnya 15 - 20 cm, dengan batang tak bercabang. Pohon ini dieksploitasi setelah berumur 20 - 30 tahun, dengan cara menoreh kulit kayu sedalam 2 - 3 mm akan mengalirkan cairan kekuning-kuningan. Menurut Wiesner’s Rohstoffe digunakan untuk pengobatan, mewarnai pernis-pernis spirtus, lak emas ‘goudlak’, cat air dan fotografi. Jadi nama Bandung berasal dari Bandong yang sesuai dengan sebuah nama kampung yang telah ditemukan oleh seorang Mardijker bernama Yulian de Silva di atas.

Kini Kota Bandung berkembang menjadi sebuah kota metropolitan, yaitu sebuah kota yang memiliki sejuta kata cemoohan, pujian, dan sanjungan mulai dari kata yang paling brengsek hingga kata sanjungan indah dan enak di dengar telinga. Sanjungan pertama datang dari seorang Arie Top yaitu perwira Kompeni yang dibuang ke daerah ini, pada tahun 1742 Bandung dikenal dengan sebutan Paradise in Wxile ‘sorga dalam pengasingan’. Ada lagi istilah Bandung sebagai kota Paris van Java, sebutan ini sebetulnya bukan sebuah sanjungan, melainkan sebuah sindiran dari seorang ahli tata kota. Dimana Kota Bandung tidak mencirikan sebuah kota yang mandiri dengan ciri-ciri tradisionalnya. Malah dalam cara membangun bangunan-bangunan yang ada di Kota Bandung, para arsitek Belanda, kurang memperhatikan sifat-sifat kedaerahan ‘hindische’-nya, sehingga arsitek Hendrik Berlage memberikan julukan Bandoeng Parijs van Java. Julukan Bandoeng Parijs van Java muncul ketika Congres Internationaux d`architecture moderne “CIAM” yang diselenggarakan di kota Chateau de la Sarraz, Swiss pada bulan Juni 1928. Perwakilan arsitek dari Bandung pada waktu itu adalah Hendrik Berlage. Ia menyidir bahwa Kota Bandung dalam pembangunannya yang berkiblat ke barat-baratan dan lebih terpaut ke Kota Paris, tidak menonjolkan ciri khas tropisnya dan tidak mencerminkan kepribadian yang mandiri (Majalah Mooi Bandoeng, 1935). Walupun julukan itu merupakan sindiran, namun pada akhirnya julukan itu menjadi termasuh ke seluruh dunia, karena Bandung menjadi proto tipe kota Kolonialle Stad ‘kota kolonial’.

Tanya Jawab Kuring jeung Kang Abdurochman (Sesepuh Damas)

Tanya Jawab Kuring jeung Kang Abdurochman (Sesepuh Damas)
Make SMS ti Tanggal 30 – 10 –2004 Jam 15.23:29 nepi ka 31 – 10 – 2004 Jam 12.37 : 30. Kuring di Bandung Kang Abdurochman teuing di mana.

P (Nandang) : Kang ari lailatul kodar teh siang atawa wengi, pedah we hartosna wengi ?
J (Kang Abdurahman) : Sae pisan patarosan teh. Saur basa hakekat mah teu siang teu wengi, margi bumi teh buleud, di urang wengi di sabeulahna siang. Makna wengi teh poek, ari poek teh langit, ari langit teh ghoib. Laelatul qadar teh katangtuan tinu ghoib ! Wallohu alam!
P (Nandang) : Dina saum taun kamari, naha abdi kenging kajantenan nu aneh sagorolong jeruk nipis miraj, bari nuju teu saum ?
J (Kang Abdurahman : Har , da ayatna oge teu khusus kanu saum, tapi dina sasih saum bakal lungsur katangtuan tinu ghoib. Duka ka saha nu gaduh milik ....
P (Nandang) : Amin.
J (Kang Abdurahman) : Peuting hartina "peteng" (teuing teu terang, teu nyaho, poek). Beurang hartina "baeu rangrang" (bray-brayan, terang, nyaho). Lailatul qadar teh pituduh keur nu poek teu nyaho nepi ka terang nyaho kana rusiah nu ghoib. Tah cing naon miraj anu kaalaman ku sdrk teh
P (Nandang) : Sagorolong jeruk nipis, miraj pependak sareng Mantenna. Heran kang, bet ka abdi?
J (Kang Abdurahman) : Subhanallah, mugi enggal sujud, eta teh amprok sareng "wajah Na", anu aya di mana-mana. Eta hakekat na sholat teh, kedah dugi ka amprok baca : inni wajahtu wajhiyalilladzii wal ardhi hanifam muslimaw wama ana minal musyrikin ... dst dina iftitah....
P (Nandang) : Naha atuh bet ka abdi, Kang ? Abdi tara solat teu puasa ?
J (Kang Abdurahman) : Kapan anu umum mah ukur sholat syareat, sholatulmuslimin. Sdrk mah rupina tiasa sholatulmuminin (hakekat) anu dianggo ku wali / nabi. Ari Rosul duanana, fisik & qolbu, sholatul muqarobbin. Geura cobian nikmatna sholat Rosululllah ... Insya Allah bakal langkung kabuka.
P (Nandang) : Kang abdi teh murtad, naha bet kitu ?
J (Kang Abdurahman) : Eta teh ciri diri nuju tasalsul, nyukcruk galur mapay laratan. Justru eta teh dongkapna ka anu nuju dina "pamurtadan". Margi murtadna sanes ingkar, tapi siga para wali khoriqul addah (diluar kalang nu umum). Malah moal bisa nepi ka tingkat siddikin lamun teu wani murtad heula .. Da engke mah moal aya sesebutan "aya / euweuh", tapi sirna tina sagala panyangka makhluk !